Sabtu, 11 Februari 2012

FIRST FLIGHT

Malam tunjuk pukul 22.31 saat kuselesaikan tugas-tugas rumahku. Masih ada beberapa tugas yang harus kurampungkan hingga nanti jam 24.00 WIB. Menyiapkan materi ajar besok serta mengirim email ke panitia Diklat PBJ di pengadilan Tinggi Agama Jogjakarta. Oh ya..satu lagi. Aku belum packaging baju untuk keberangkatanku besok dinihari. ufff....masih banyak ternyata kerjaanku.

Sebenarnya besok pagi kurencanakan jauh-jauh hari untuk menghadiri pesta pernikahan ponakanku di Klaten. Tapi telpon dari seorang teman di Mamuju yang meminta bantuan mengharuskan aku untuk merubah rencana. Ya... tugas memanggilku. Mamuju...Sulawesi Barat. Kebetulan aku belum pernah kesana.

Dalam hitungan jam, aku harus berfikir cepat untuk mengambil keputusan, lantas hunting tiket, mengkondisikan rumah dan anak-anak. Caca, anak bungsuku yang paling tidak suka dengan kepergianku kali ini. Sebab, kemaren saat aku pulang dari Maluku Utara, aku menderita radang tenggorokan parah. Begitu masuk rumah, Caca memelukku dan menyeka dahiku. Mama sakit??? aku nggak mau Mama pergi lagi. Bilang Bosnya Mama, Mama nggak boleh pergi-pergi lagi. Kemudian dia terus memelukku. Menuntunku masuk kamar dan tangan mungilnya memijit-mijit kepalaku. Mama pusing??? katanya. Tak terasa setetes air mata keluar dari mataku. Anakku cantik ini perhatian sekali denganku. Bahagia sekali jika kelak aku sudah tua dan dia dengan kasih sayang merawatku... Alhamdulillah Ya Robb..Kau berikan anak cantik yang sholekah...

Malam ini aku rencanakan hanya tidur 2 jam, karna jam 03.00 WIB aku sudah harus mengayunkan langkahku untuk tugas mulia. Mengajar. Perjalanan 2 jam dengan Bus ke Jogja akan kutempuh, untuk disambung penerbangan jam 06.00 WIB. Surabaya-Ujung Pandang-Mamuju.

Terkadang batin ini merasa bersalah kepada Suamiku, karna terlalu sering kutinggalkan bersama anak-anakku. Tapi pilihan ini sudah kubicarakan, dan aku mendapat restunya untuk menapaki jalan ini. Jalan yang tidak semua orang bisa melewatinya. Susah payah kuraih dan kutemukan. Dan aku menjadi semakin hidup ketika berada di jalan ini. MENGAJAR. Lebih tepatnya BERBAGI. Karena dalam berbagi ini, sebenarnya akulah yang mendapatkan banyak ilmu dari peserta didikku. Uluran persaudaraan yang tulus, setiap hari mendapat SMS, telpon, email yang meminta bantuan dalam setiap masalah di pengadaan, sungguh irama hidup yang indah.

Untuk anak-anakku, Maafkan Mama, Nak..
Mama lakukan semua ini untuk membuat kalian bangga.
Caca, suatu hari kamu akan mengerti apa yang Mama lakukan, dan Mama yakin kamu akan merestui Mama untuk terus berbagi. Pamit anakku, Tidurlah dalam pelukan malam dan doa Mama, dini hari nanti, Mama pergi...


MZ, Solo, 23.08 WIB

2 komentar:

  1. Sukses selalu Bunda... Semoga pengabdiannya menjadi berkah bagi semua, terutama keluarga. Amiin.

    BalasHapus